Simple Life

Kita ada didunia ,menjalani kehidupan tentu ada tujuan. Dalam perjalanan menuju tujuan banyak yang terjadi; susah, senang, sedih, takut, waswas, kecewa, marah.... Pandanglah dari sudut yang lain....Syukur dan Sabar...so simple...

Sunday, October 29, 2006

BAJU BARU………??

Lebaran kali ini santai sekali…..
Anggit dan Anggia kedua anak saya sudah besar. Tentu tidak meminta pakaian baru atau sepatu baru. Saya ingat saat mereka kecil-kecil, jauh-jauh hari sudah sibuk menyicil belanja pakaian dan perlengkapan lain : pakaian untuk shalat Ied ke lapang, hari ke satu, hari ke dua, hari ke tiga, pakaian dalam ,kaos kaki, sepatu, sendal, dll
Lebaran kali ini, saya titipkan uangnya dan mereka mencari sendiri sesuai kebutuhan : si AA alias Anggit tiba-tiba memiliki USB baru ..rupanya dia gak beli pakaian. Anggia keukeuh menutup dompetnya, karena ingin beli helm...(ha...ha....si geulis ini senang naik motor tapi takut jerawatan.....)
Papa Ron lebaran kali ini sukses besar...tidak membeli pakaian atau apapun yang baru,dia sih beli peralatan atau servis motor dan mobilnya.....hi...hi....
Saya sendiri?? Baju baru gak beli tuh...., karena saya membeli something special (gak bisa diceritain nih.....sensor berat....!!) . Yang pasti barang baru tersebut berhubungan dengan organ tubuh saya yang telah dioperasi berkali-kali karena kanker......Jadi lebih ke arah fungsi nih..... Saya sibuk membeli berbagai makanan, minuman juga untuk dibagikan . Berbagi kebahagian sangat menyenangkan.
Seminggu sebelum lebaran seluruh keluarga melakukan sweeping, semua pakaian, sepatu, sendal yang sudah tidak digunakan karena kecil atau alasan lain dikumpulkan dan dibagi-bagikan kepada yang memerlukan.....
Alhamdulillah ternyata lebaran kali ini keluarga kami sudah memutuskan membeli “barang” yang sesuai dengan kebutuhan alias fungsi yang dibutuhkan masing-masing.....Pasti jauh bermanfaat .
Baju baru Alhamdulillah....
‘tuk dipakai di hari raya....
Gak punya pun gak apa-apa....
Masih ada baju yang lain.....

Sepatu baru...Alhamdulillah....
’Tuk dipakai di Hari Raya....
Gak punya pun gak apa-apa....
Masih ada baju yang lain.....

Semoga masih diberi umur panjang, kesehatan dan keselamatan, rizki yang cukup agar kami masih dapat berbagi kebahagiaan di Hari Raya yang akan datang....Amiiin......

BAJU BARU………??

Lebaran kali ini santai sekali…..
Anggit dan Anggia kedua anak saya sudah besar. Tentu tidak meminta pakaian baru atau sepatu baru. Saya ingat saat mereka kecil-kecil, jauh-jauh hari sudah sibuk menyicil belanja pakaian dan perlengkapan lain : pakaian untuk shalat Ied ke lapang, hari ke satu, hari ke dua, hari ke tiga, pakaian dalam ,kaos kaki, sepatu, sendal, dll
Lebaran kali ini, saya titipkan uangnya dan mereka mencari sendiri sesuai kebutuhan : si AA alias Anggit tiba-tiba memiliki USB baru ..rupanya dia gak beli pakaian. Anggia keukeuh menutup dompetnya, karena ingin beli helm...(ha...ha....si geulis ini senang naik motor tapi takut jerawatan.....)
Papa Ron lebaran kali ini sukses besar...tidak membeli pakaian atau apapun yang baru,dia sih beli peralatan atau servis motor dan mobilnya.....hi...hi....
Saya sendiri?? Baju baru gak beli tuh...., karena saya membeli something special (gak bisa diceritain nih.....sensor berat....!!) . Yang pasti barang baru tersebut berhubungan dengan organ tubuh saya yang telah dioperasi berkali-kali karena kanker......Jadi lebih ke arah fungsi nih..... Saya sibuk membeli berbagai makanan, minuman juga untuk dibagikan . Berbagi kebahagian sangat menyenangkan.
Seminggu sebelum lebaran seluruh keluarga melakukan sweeping, semua pakaian, sepatu, sendal yang sudah tidak digunakan karena kecil atau alasan lain dikumpulkan dan dibagi-bagikan kepada yang memerlukan.....
Alhamdulillah ternyata lebaran kali ini keluarga kami sudah memutuskan membeli “barang” yang sesuai dengan kebutuhan alias fungsi yang dibutuhkan masing-masing.....Pasti jauh bermanfaat .
Baju baru Alhamdulillah....
‘tuk dipakai di hari raya....
Gak punya pun gak apa-apa....
Masih ada baju yang lain.....

Sepatu baru...Alhamdulillah....
’Tuk dipakai di Hari Raya....
Gak punya pun gak apa-apa....
Masih ada baju yang lain.....

Semoga masih diberi umur panjang, kesehatan dan keselamatan, rizki yang cukup agar kami masih dapat berbagi kebahagiaan di Hari Raya yang akan datang....Amiiin......

LIBURAN…….LEBARAN……..!!!

Liburan lebaran selalu penuh kegiatan, disamping mengunjungi keluarga juga rumah kita menerima kunjungan dari kerabat, keluarga, dll
Padahal tentu saja “si mbak” yang membantu pekerjaan di rumah sudah mudik sejak H-3 lebaran.
Saya bersyukur mendapat pertolongan dari seorang ibu yang datang tiap hari membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang tak kunjung habis…:menyapu, mengepel, mencuci pakaian, menyetrika baju, mencuci piring dan gelas, menyiapkan makanan, menyiram tanaman, menyapu halaman, merapihkan kamar tidur, menykat kamar mandi, menyalakan dan mematikan lampu, mengelap meja,merapikan barang pada tempatnya, merapikan lemari pakaian, menyikat kamar mandi,dll . Sehingga saya masih sempat pergi bersama anak-anak, makan diluar, ke toko buku, atau bahkan mengerjakan tugas kantor…..(libur…libur tetep mikirin kerjaan……PNS kurang kerjaan nih…ye…)
Lebaran kali ini saya dan keluarga lebih banyak menikmati hari-hari berrr sama , tahun lalu kami berlibur bersama. Tahun ini anak-anak mempunyai kesibukan masing-masing di kampus dan sekolahnya. Anggit masih bolak-balik ke kampus dan menyiapkan berbagai tugas serta persiapan ujian. Anggia punya jadwal yang berbeda,berkumpul dengan saudara, foto bersama, membuat design foto , dll. Suami saya alias papa Ron (bukan merk Pizza...ya) juga tetep beraktifitas mendekati alam :dengan motor atau mobilnya menjajal track baru ke gunung atau hanya melihat-lihat pemandangan ke luar kota..... Maghrib kita semua sudah berkumpul lagi..... Itulah kegiatan Berr sama kita, berrr......(seperti burung terbang...) sama-sama melakukan kegiatan di tempat berbeda.
Saya sendiri ngapain ??? Liburan kali ini, saya menikmati di rumah. Biasanya harus keluar rumah seharian, berangkat jam 06.00, tiba pk. 17-18 an. Di rumah ngapain ? ya...baca buku, buat konsep program, luluran, facial, pijat , pokonya benar-benar relaks. Sesekali berangkat dengan anak-anak..............
Tidak terasa sudah hari Minggu, besok kembali bekerja dan berkegiatan rutin......Semangat-semangat...!!

SMS….SMS……!!! email……email….!!!



Beberapa hari menjelang dan sesudah Hari Raya idul Fitri alias lebaran , HP – ku terus menerus menerima sms dari sahabat, kerabat, saudara, teman kerja, lintas daerah, lintas budaya, berbagai agama, dari Bandung, Jakarta, Bogor, luar Jawa bahkan dari luar negeri pun mampir , bahkan mungkin yang belum bertatap muka dengan saya di darat. Ucapannya beragam : dari yang bahasa sunda luarrr biasa lemesnya (kaya kromo inggil kali ya…), bahasa inggris, bahasa Indonesia, bahasa gaull, berupa puisi, atau ucapan resmi, bahkan seperti mengobrol…….bahkan dengan plesetan seperti :”walau hatiku berlumuran dosa sepekat Lumpur lapindo……mari bersihkan hati sebersih….so klin…..ah…ada-ada aja….
Kesal ? Ya…enggak lah…Cape….?? Ya..pasti lah….,tapi kan engga tiap hari. Saya malah merasa senang karena banyak yang ingat dan mendoakan saya, semua sms yang masuk saya jawab. Tentunya dengan berbagai versi : kalau sms masuk bahasa sunda ya…saya jawab juga dengan bahasa sunda, bahkan ada no nya belum ada di memory HP ku, di ujung kalimat saya tambahkan :”maaf dengan siapa ini ya….?”
Jadi lah bertambah teman ku….senangnya….
Ada kejutan ? Tentu saja ada, kejutannya bukan sms mesra, atau sms salah kirim kaya di lagu sms itu loh.....tapi beberapa kawan lama yang sudah tidak bertemu sejak lulus kuliah muncul berkirim salam,doa dan memohon maaf lahir & bathin....ah indahnya......Tidak lupa via email dan emails groups teman-teman berkirim salam ,doa dan ucapan mohon maaf lahir bathin…..
Dengan bertambah maju teknologi, kita dapat bertegur sapa, bersilatuarhmi satu hari dengan puluhan bahkan ratusan orang ,tanpa memandang jarak. Jadi kenapa harus malas membalas sms atau e.mail....
Insya Allah setiap huruf yang ditulis dengan ikhlas dan sepenuh hati getarannya tertangkap oleh si penerima sms , berbagai jawaban dan sms yang dikirim kira-kira begini :
· ”Sama-sama Bapak, mohon maaf lahir dan bathin dari kami sekeluarga. Salam dan doa untuk Bapak beserta keluarga”
· ”Mohon maaf lahir dan bathin ya....,salam & doa untuk keluarga”
· ”Hapunten lahir &bathin, salam & doa kanggo kulawargi”
· ”Aduh...kamana wae yeuh....hapunten lahir & bathin nya...,salam & doa kanggo kulawargi”
· ”Ibu...abdi nyuhunkeun hapunten lahir & bathin, salam & doa kanggo Bapak & kulawargi”
· ”Ibu...saya mohon maaf lahir & bathin, salam & doa untuk keluarga”

Pulsa ??? Pasti membengkak atau ”ngabeledug” lah.......tapi Insya Allah ada manfaatnya.Coba kalau kita harus wara-wiri mengunjungi mereka atau berkirim surat ria.....
Salah seorang sahabat SMP saya yang kebetulan tinggal di Afrika Selatan mengirim e.mail seperti ini :

“Teu kaci ah make email mah. Bareto mah kudu meuli kartu, nulisan make tangan hiji-hiji, nempelan perangko bari dijilat, terus kudu macet-macet jeung ngantri di kantor pos. Itu keliatan perjuangannya jadi permintaan maafnya juga ketauan ikhlas. Ari make email dikirim langsung ka 100 babaturan, jaba make komputer kantor. Kurang afdol. “

Hi...hi....dasar aja yang nerima emailnya gak ikhlas....!!! Jadi sipa yang bisa mengukur keikhlasan ya...?? tentu diri kita sendiri.
Mohon maaf lahir & bathin..........!!!

Thursday, October 12, 2006

JERUK MAKAN JERUK………EMANG ENAK….???

Hari ini saya pelatihan tentang manajemen SDM kesehatan PNS.
Ada satu pembicara,sejak awal materinya dia terussss dan terusssss......memberi komentar miring tentang PNS :
Katanya PNS gajinya paling gede :datang tgl 1 ,hanya untuk bawa gaji. Jadi kerja 1 jam dibayar diatas 1 jt
Katanya PNS itu gak berkarakter
Katanya PNS itu kotor semua,”mana bisa bersih orang mainnya di lapang sepak bola berlumpur,pasti semua kena lumpur. Coba yang merasa diri bersih berdiri...gak ada yang berani kan...?”
Katanya PNS itu gak mau berubah
Katanya semakin tinggi pangkat semakin korup
Katanya PNS sok keluar negri untuk study banding ,buang –buang uang.....
Katanya PNS batalyon 804 : masuk jam 8,prestasi zero, pulang jam 4
Katanya ....katanya......

Terus maunya apa, ngasih solusi engga, kok cerita kesana kemari tentang sisi negatif PNS.

Sayang dia tidak tahu :
Saya dan ”anal-anak ” saya di kantor sering lembur sampai larut malam, bahkan sabtu dan minggu bekerja untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan dan diskusi untuk mengembangkan program
Saya memiliki karakter, gak percaya ???
PNS semua kotor ??? mangga wae...,emang loe siape...??
Saya dan teman-teman terus membuat perubahan walaupun kecil, pokonya hari ini harus lebih baik dari kemarin.esok lebih baik dari hari ini
Maksudnya kakak-kakak ku yang mantan pejabat juga korup ????
Saya berulang kali ke luar negeri karena membuat karya tulis ilmiah sehingga diundang oleh panitia untuk presentasi.buang-buang uang....??? Gak minta uang laggi...bahkan mengibarkan bendera merah putih
Saya tiap hari jam 7 telah dikantor dan pulang lewat jam kerja
Jadi...kesimpulan saya dengerin dia :”cuappe dech....!!!”

Bagian paling menarik :ternyata dia seorang pimpinan badan pelatihan PNS....harrrr.....???? gak salah tuh.....??? Masa jeruk makan jeruk......???

ORANG PINTAR…..(maksud nya...…???)

Dalam masa pengobatan penyakit kanker yang saya derita.
Saya banyak didatangi teman, sahabat, kerabat, bahkan orang yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya.......
Mereka datang dengan berbagai alasan, ada yang ingin menengok, melihat kondisi, mengirim ”obat” atau menyarankan saya untuk berobat ke tempat lain selain dokter.

Ada yang di Medan,Purwakarta, Sukabumi, Tasik, Yogya,dll
Mereka bilang :”kamu kesana deh...disana ada orang pintar yang dapat menyembuhkan segala penyakit....!”

Saya berpkir :dokter yang merawat saya, seorang dokter bedah ahli onkologi dengan kekhususan payudara.lulusan dari Belanda.
Sepanjang hidupnya dia habiskan untuk menimba ilmu dan menolong pasien......Tapi tetep kata orang mah ”bukan orang pintar......”
(Kasihan deh.....!!!)
Saya selalu menyapa dia :”dokter yang baik dan pintar...”
Dia menjadi ahli karena belajar, dia menjadi dokter karena ridho Allah juga, dia selalu memohon pertolongan Allah dalam mengobati......Kok gak dibilang ”orang pintar ya....???”

Manusia ada unsur biologi, jiwa dan spiritual. Maka bila berobat haruslah secara utuh atau holistik...artinya jangan meninggalkan salah satu dong....
Jiwa dibuat tenang, dekat kepada dan mohon pertolongan Allah tapi berobat ke dokter secara medis...? Teteppp atuh....!!

Jadi siapa sich sebetulnya yang disebut orang pintar itu???? Please dech ah.......!!!

ASHA KECIL

Pada saat saya pertama kali di diagnosa menderita kanker payudara, waktu itu sekitar bulan september 2002. Saya dan suami langsung mempersiapkan rencana pengobatan yang akan dimulai dengan operasi.

Pada waktu yang bersamaan keponakan saya, Rani dan Koko bersama putri kecilnya Asha tinggal di rumah kami sementara sambil menunggu rencana kepindahannya ke Bogor.

Saya dan suami tentu sangat senang , karena ada yang menemani putra-putri kami Anggit dan Anggia yang saat itu kelas 3 SMP dan 6 SD. Walaupun ada mbak Sari yang setia mengurus segala keperluan di rumah

Kehadiran keponakan kami dan putrinya membuat saya tenang saat menjalani pengobatan di RS.

Sejak pertama kali di diagnosa , saya harus bolak-balik ke RS. RS menjadi tidak asing lagi bagi saya. Operasi pertama memang hanya memakan waktu 2 hari. Operasi ke dua sekitar 8 hari. Dilanjutkan dengan radiasi. Berarti selama 6 minggu saya harus ke RS tiap hari untuk radiasi. Setelah itu masuk jadwal kemoterapi, 3 minggu sekali saya harus dirawat 1 malam untuk pemberian kemoterapi sebanyak 6 siklus. Belum lagi saat kemo pertama, saya harus dirawat 6 hari untuk memperbaiki keadaan umum saya akibat efek samping kemoterapi. Di sela-sela jadwal tersebut, ada kontrol ke bagian radiologi, ke bagian laboratorium dan entah berapa kali ke Dr. Bedah yang menangani saya.

Sepulang dari RS setelah menjalani kemoterapi, biasanya saya langsung berbaring di kamar. Tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kepala rasanya berputar seperti kita selesai bermain ”gajah beledug” kemudian naik kora-kora dan naik komidi putar. Kepala pun terasa membesar sebesar kepala gajah, rasa mual terkadang muntah biasanya menyertai di minggu pertama setelah pemberian kemoterapi. Mual seperti isi perut sudah berada di pangkal kerongkongan dan siap keluar kapan saja. Karena itu saya selalu membawa kantong pelastik, dan di kamar sebelah tempat tidur selalu tersedia ember kecil. Keluhan itu ditambah dengan rasa linu yang menyerang seluruh tulang tubuh seperti seorang anak yang sedang ”sakaw”. Sulit menelan bahkan sampai tidak bisa menelan air liur sendiri pernah saya alami.

Saat saya berbaring sendiri di kamar tidur, biasanya pintu tidak ditutup rapat agar suami atau anak-anak dapat melihat dan menolong bila saya memerlukan sesuatu. Disebelah tempat tidur ada meja kecil yang penuh tempat obat, kertas tisu, minuman, kue kecil, sapu tangan handuk dan perlengkapan lainnya agar mudah dijangkau.

Pagi hari bila kedua anak saya sedang sekolah, saya biasa berbaring di tempat tidur sambil memejamkan mata. Saya senang membaca tetapi tidak bisa pada kondisi seperti itu karena membuka mata pun pusing. Menonton acara televisi pun demikian. Pada saat-saat seperti itu biasanya Asha kecil dengan diam-diam masuk ke kamar saya. Dia paling senang mendekati meja obat saya. Tentu saja meja itu menarik hatinya karena bermacam-macam barang ada disana. Terkadang dia bergumam, seolah bertanya ”apakah boleh bermain dengan semua yang ada di meja tersebut ?” Biasanya saya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.

Dengan senyumnya yang tulus, mulut penuh makanan , matanya yang bening dia menatap mata saya sambil menarik-narik kerudung kecil yang saya kenakan. Sejak pemberian kemoterapi pertama saya selalu menggunakan kerudung kecil di rumah karena kepala saya gundul, tanpa sehelai pun rambut. Saya tidak ingin orang lain terutama anak-anak saya melihat perubahan pada diri saya. Jadi kalau keluar kamar saya selalu menggunakan kerudung kecil. Asha kecil selalu tertarik dengan kerudung tersebut karena berwarna-warni. Dia selalu ingin mencoba di kepalanya. Biasanya saya kenakan di kepalanya. Dia langsung tersenyum manis dan menunjuk cermin ingin berkaca. Setelah berkaca biasanya dia langsung lari ke luar kamar untuk menunjukkan kepada siapa saja yang ada di luar kamar bahwa dia berkerudung.

Bila kerudung saya dibuka, tentu saja kepala gundul saya terlihat. Asha kecil biasanya menatap saya dengan pandangan biasa saja : tidak menunjukkan persaan takut, mencibir, atau menghindar. Dia terkadang memegang kepala saya yang gundul seolah ingin membuktikan bahwa benar tidak ada rambut di kepala saya. Dia tersenyum geli. Kepala gundul ternyata tidak menakutkan, kepala gundul ternyata tidak perlu ditakuti, kepala gundul ternyata tidak perlu dipikirkan. Tatapan matanya seeperti tatapan mata suami saya bila melihat saya dalam keadaan tanpa keurudung, tetap hangat, bersahabat, dan penuh kasih sayang. Demikian juga tatapan mata Anggit dan Anggia kepada saya tidak ada yang berubah .

Saya sering tersenyum melihat tingkah laku Asha kecil , ah....seandainya semua orang di muka bumi ini mempunyai mata yang bening dan hati yang bersih seperti Asha kecil. Yang selalu menatap orang lain dengan pandangan bersahabat, tidak ada pikiran negatif.

Kejadian itu hampir terjadi setiap hari, bila orang tuanya memanggil ”Asha sini...” Dia dengan cepat meloncat ke tempat tidur saya, berbaring di sebelah dan masuk ke dalam selimut. Saya biasanya menatap matanya dan menempelkan telunjuk saya ke mulut . Dia seolah – olah mengerti bahwa kita tidak boleh bersuara, dia semakin dalam masuk ke bawah selimut. Biasanya Asha kecil segera dipanggil keluar dari kamar, karena takut mengganggu saya yang sedang beristirahat.

Terkadang dia bermain-main dengan memindah-mindahkan tempat obat, membuka tempat tisu atau mengeluarkan talk ke tangannya yang mungil. Dia selalu menatap mata saya sambil tersenyum dan bergumam. Terkadang membawa buku cerita dan pura-pura membaca di sebelah saya. Biasanya kedua orang tuanya memangil “Asha kesini nak….! Jangan mengganggu nini ayi….…..”

Dia tersenyum menatap saya sambil menempelkan telunjuknya ke mulutnya yang mungil. Tidak lama kemudian biasanya Asha kecil digendong mamahnya ke luar kamar. Saya hanya tersenyum. Asha kecil tidak pernah mengganggu saya, Asha kecil hanya ingin menemani saja, Dia anak yang baik.

Asha kecil terkadang mengganggu kedua anak saya Mang Aa dan Bi Gia demikian dia biasa menyebut nama kedua anak saya. Anggit dan Anggia senang sekali diganggu oleh Asha, mereka jadi melupakan sejenak ibunya yang sedang sakit, sehingga kegembiraan selalu ada di dalam rumah kami. Terkadang dia juga mengganggu suami saya ”aki ronald” demikian dia menyebutnya. Asha kecil tiba-tiba ingin digendong atau duduk di kaki suami saya ingin diterbangkan ke atas. Terkadang dia duduk di sebelah saya dan meminta makanan yang sedang saya makan atau minuman yang sedang saya minum.

Kejadian itu telah lama berlalu. Saya sering berpikir apakah ini kebetulan atau rencana Allah. Semua kejadian seperti telah direncanakan dengan baik. Ya… Allah yang Maha Pengatur dan Perencana, terima kasih atas segala Rahmat dan Karunia yang diberikan kepada kami se keluarga. Tidak ada yang perlu ditakuti, semua telah direncanakan dengan sempurna oleh Allah.

Untuk Asha kecil, terima kasih telah menemani kami sekeluarga. Tetaplah menjadi Asha kecil yang manis, yang bermata bening, yang berhati bersih dan membawa kebahagiaan kepada sekelilingnya.

Doa dari nini Ayi, aki Ronald, mang Aa da Bi Gia untuk mu............

PEMIMPIN BERBASIS KEKERASAN…?? AKH..MASA IYA BISA…????


Suatu waktu,masih terbayang dalam ingatan saya saat melihat tayangan tv tentang kekerasan di kampus calon pemimpin……. air mata kami mengalir.

Kami ibu dari putra - putri yang berusia remaja dan menginjak dewasa dan juga berprofesi dokter.

Kami sangat prihatin dengan kejadian "kekerasan" dan penyiksaan yang berjudul "pembinaan" di dalam kampus tersebut

.

Kepada para ibu yang putra-putrinya pernah mengalami penyiksaan seperti terlihat dalam tv , kami menyampaikan simpati sebagai sesama ibu.

Kami tidak percaya "gaya kekerasan" dapat menghasilkan pemimpin yang bermoral.

Andai ada putra kami diantara mereka... akan kami jemput pulang, kami peluk dengan penuh kasih, kami bisikan kata - kata kasih sayang bukan cacian atau makian.

Kami juga khawatir, kalau di dalam kampus saja kekerasan dibiarkan , bagaimana di tempat lain di luar institusi pendidikan?

Kami menunggu kebijakan apa yang akan dikeluarkan oleh pihak-pihak terkait yang berwenang dengan perlindungan anak dan pendidikan terhadap kejadian tersebut.

dr.Ani.R Raksanagara, dr. Ardini Raksanagara,MPH,dr Ahyani Raksanagara, M.kes dan seluruh keluarga besar

(surat yang pernah dimuat di media cetak)

Kenangan untuk Ibu dari seorang “ibu”

Oleh :Ahyani Raksanagara

Kasih Ibu kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

(Ciptaan Ibu Sud)

Saat saya kecil senang sekali menyanyikan lagu tersebut, karena mudah dinyanyikan. Saat itu mungkin saya belum paham arti dan makna dari kata-kata yang dimaksud. Sekarang bila mendengar lagu itu, saya sering menitikkan air mata. Tanpa sadar langsung terucap doa untuk ibu saya almarhum yang sangat saya cintai.

Ibu menurut kamus bahasa Indonesia mempunyai beberapa pengertian, diantaranya adalah : orang perempuan yang telah melahirkan seseorang, atau sebutan untuk wanita yang sudah bersuami, panggilan takzim kepada wanita yang sudah atau belum bersuami, dapat pula berarti bagian yang pokok (besar,asal) atau yang utama diantara beberapa hal lain;yang terpenting ,misalnya ibu negeri .

Peringatan hari Ibu pada setiap tanggal 22 desember tentu dimaksudkan dalam rangka memberikan penghormatan bagi kaum ibu yang telah melahirkan dan membimbing kita . Peran seorang ibu dalam mendidik anak sangat besar.

Dahulu saat saya masih menjadi “anak” hari ibu tidak begitu terasa penting, sekarang saya telah menjadi ibu dari 2 orang anak, ada kesedihan dan rasa sesal yang mendalam mengapa tidak setiap hari saya buat menjadi hari ibu saat ibu saya , yang biasa dipanggil ema (panggilan ibu dalam bahasa sunda) masih ada disamping saya.

Sekarang setiap tanggal itu hadir saya selalu menangis mengingat segala yang telah ema perbuat untuk saya dan kakak-kakak saya. Walaupun secara formal tidak berpendidikan tinggi, tapi ibu selalu membaca untuk meningkatkan pengetahuan dan memperluas wawasan. Tulisan ini saya buat dengan tidak mengurangi rasa cinta dan hormat saya kepada ayah saya dan suami saya yang sangat saya cintai, kasihi dan hormati.

Saya adalah anak terkecil dari 13 bersaudara (3 orang diantaranya meninggal saat usia masih balita), karena itu saya dipanggil ayi (sebutan adik dalam bahasa sunda). Pada saat saya berusia 13 tahun ayah meninggal dunia, sejak itu tentu saja ibu menjadi figur yang sangat lekat dihati. Ema yang mengajarkan bagaimana saya harus selalu bersih hati. Setiap hari ada saja yang saya adukan kepada orang tua saya, misalnya “ Saya tidak suka sama si A, dia membicarakan sesuatu yang sebetulnya tidak saya perbuat, saya tidak mau lagi bicara dan berteman dengan orang seperti itu”

Ema biasanya menjawab sambil menjahit, atau memasak, atau menyiapkan makanan di meja makan :” Biar saja, orang seperti itu ada dimana-mana, nanti sudah besar pun kamu tetap akan bertemu orang – orang seperti itu, kita harus tetap baik kepada semua orang. Tetap tersenyum dan ramah kepada semua orang, Bantu orang lain sebisa kita, tidak akan rugi selalu berbuat baik dan bersih hati. Kalau orang lain berbuat jahat kepada kita itu adalah urusan mereka …” Pendapat itu biasanya selalu diperkuat dan dibenarkan oleh apa (sebutan bagi ayah dalam bahasa sunda). Demikian tiap hari ,tiap waktu bila saya mengadukan ada orang yang berbuat buruk atau mengesalkan hati, sampai saya sudah bekerja, ema selalu memberi jawaban yang sama. Tidak pernah berubah : berbuat baik kepada sesama, ramah, bersih hati, bantu orang lain semampu kita.

Ema juga yang mengajarkan saya untuk selalu tidak takut menghadapi apapun dalam kebenaran, berani mempertahankan sesuatu bila itu kita yakini kebenarannya, berani menyampaikan pendapat, tidak rendah diri, tapi juga tidak sombong, tidak mengeluh, selalu bersyukur atas segala yang kita terima saat ini. Nilai-nilai tersebut saya dapatkan di rumah, bukan teori melainkan berupa contoh dari ibu dan ayah. Saya bersyukur sekarang tidak perlu mengikuti diklat tertentu atau kursus tertentu , karena setiap hari saya sudah berada dalam “diklat” dengan asuhan ibu dan ayah .

Setiap hari bila akan keluar rumah saya selalu pamit kepada ibu, ibu selalu menjawab : “Ya…semoga selamat…..!” Bila sudah mendengar kalimat tersebut, saya merasa tenang dan mantap untuk meninggalkan rumah, juga saat meninggalkan rumah untuk mengikuti suami ke kota lain. Tidak ada keraguan, hati saya sangat lapang dan percaya segala akan baik-baik saja. Saya ingat suatu hari saya mengatakan pada ibu : ” Ma….doakan ayi besok mau ujian

Ibu dengan wajah yang tenang berkata : “ ’Ma doakan agar kamu selamat, kamu sudah berusaha. ’Ma lihat kamu sudah belajar dan terus berdoa . Yang penting kamu telah berikhtiar dengan optimal, ’Ma doakan kamu mendapatkan yang terbaik. Jangan lupa Bismillah dulu…., apapun hasilnya kamu sudah memberikan yang terbaik, sudah berusaha….. Ini permen , makanlah permen ini kalau kamu sedang ujian terasa lelah.”

Permen itu selalu diberikan kepada saya maupun kakak saya bila akan ujian, sampai-sampai teman-teman suka bercanda :”Bagi dong permen nya, biasanya kamu mendapat nilai bagus kalau ujian. Mungkin karena permen dari ibu mu..…”

Saat itu tidak pernah terpikirkan sedikitpun nilai yang ditanamkan oleh ibu, tentang pentingya berikhtiar optimal, memberikan kemampuan yang terbaik dari kemampuan yang kita miliki sambil terus berdoa kepada Allah.

Tahun 2002 saya didiagnosa menderita kanker payudara. Dalam kurun waktu satu tahun saya harus menjalani beberapa kali operasi, radiasi, kemoterapi, makan obat, dirawat di RS karena keadan umum yang lemah. Apa yang membuat saya bertahan dan selalu berikhtiar untuk kesembuhan di jalan yang diridhoi Allah adalah nilai –nilai yang telah ditanamkan oleh ibu untuk tidak putus asa, tidak menyerah, selalu berlapang dada. Dukungan dan kasih sayang dari seluruh anggota keluarga selalu saya dapatkan. Disamping itu yang membuat saya bertahan juga salah satunya karena “kasih ibu”.

Kasih sayang saya kepada ke dua anak saya : Anggit Raksajati, kelas 1 SMU dan Anggia Karina, kelas 1 SMP sepanjang masa dan seluas langit biru….. tak berbatas….tak bertepi.

Harapan untuk terus mendampingi, membimbing, mendoakan , mendekap erat anak-anak selama mungkin membuat saya berani untuk menjalani serangkaian pengobatan yang menyakitkan atau menakutkan sekalipun !

Saya semakin yakin, seorang ibu akan selalu berusaha untuk kebahagiaan dan keselamatan anak-anaknya. Secara tidak sadar saya juga ingin menanamkan nilai,ikhlas, lapang dada, bersih hati, pantang menyerah, berani menghadapi tantangan kepada anak-anak saya. Mudah-mudahan mereka kelak dapat mewarisi nilai-nilai tersebut.

Seorang ibu akan merasa bahagia bila anaknya bahagia. Bagaimana ukuran kebahagiaan? Kebahagiaan tidak diukur dengan besarnya materi yang kita miliki, tingginya kedudukan yang kita jalani, kebahagiaan adalah bagaimana kita mensyukuri segala yang kita peroleh saat ini.

Sejak dulu saya ingin membahagiakan ibu saya, cara saya membahagiakan ibu tentunya tidak bisa saya tunjukkan dengan memberikan emas berlian, atau tiket berlibur ke luar negeri. Saya selalu berupaya keras menjadi yang terbaik dalam segala hal, saya juga tidak ingin ibu dibuat repot karena ulah saya. Saya menunjukkan kepada ibu bahwa saya anak yang paling bahagia di dunia, tidak pernah mengeluh kepada ibu, tidak membandingkan kondisi yang saya jalani dengan kondisi orang lain. Mudah-mudahan ibu berbahagia dengan kebahagiaan yang saya tunjukkan.

Ibu terlihat beberapa kali menampakkan kebahagiaan : saat saya di wisuda menjadi dokter, saat mencium kening saya di hari pernikahan, saat melihat saya sedang menolong pasien di puskesmas dimana saya bertugas, saat menggendong dan memeluk putra pertama saya dan banyak lagi kejadian yang tanpa sadar saya melihat raut wajah ibu yang sulit dilukiskan antara bahagia dan bangga.

Ada pengalaman menarik saat saya berumur 10 tahun , saya ingin menyenangkan ibu dan ayah saya. Saya buatkan mereka nasi goreng, saya tidak tahu bumbunya dan juga tidak mau bertanya karena ingin membuat kejutan. Segala bumbu dapur yang ada saya ulek dan digoreng bersama nasi. Ema dan apa memakan masakan itu sambil, bicara :’Enak sekali…pakai bumbu apa saja ini ? Dapat resep darimana…?”

Saya melihat mereka menyantap nasi goreng itu dengan lahap. Saya yang ikut makan merasakan ada yang tidak beres dengan rasa nasi goreng itu, saya berkata :”Kok rasanya begini ya…..tidak seenak yang dibuat ema, padahal semua bumbu sudah saya masukan…” Meledak lah tawa mereka :” Lain kali tidak perlu semua bumbu dimasukan, cukup ini…dan ini….Tapi tidak apa –apa nasi goreng ini enak juga seperti masakan dari India…..” Itulah ibu tidak pernah mencela perbuatan saya sehingga saya tumbuh menjadi anak yang mempunyai rasa percaya diri akan tetapi mau menerima masukan.

Sampai akhir hayatnya tidak pernah ada keluhan ibu atau kata-kata ibu yang membuat saya kecil hati, atau menceritakan tentang susahnya mengurus anak banyak.

Sikap dan perilaku ibu tanpa sadar memberikan nilai-nilai kepada saya. Di akhir hayatnya , saat itu saya akan berangkat ke kantor. Ibu memanggil saya dan memeluk erat dengan mata berkaca-kaca :”Terima kasih atas segala kebaikan ayi, maaf bila ema sudah menyusahkan. Jaga Anggit dan Anggia agar tetap bersih hati. Kita pasti akan bertemu kembali dan berkumpul di surga……” Tidak sepatah pun kata yang bisa saya ucapkan , saya menangis sambil mendekap erat ibu, sesekali saya berbisik :”Maafkan ayi, maafkan ayi….jangan bicara seperti itu….ema tidak pernah menyusahkan saya, ema selalu memberikan kebahagiaan….”

Kata-kata itu terngiang kembali, begitu besar peran ibu terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Untuk para ibu, selamat menikmati peran sebagai ibu , berikan kemampuan terbaik kita untuk anak-anak . Niatkan selalu setiap langkah yang kita perbuat sebagai bagian dari ibadah. Bukan kah segala amal itu ditinjau dari niatnya, dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang ia niatkan?

Untuk “anak-anak” selalu berbakti kepada ibu dan ayah dalam kebaikan. Untuk Anggit dan Anggia :” maafkan mamah kalau belum dapat menjadi ibu yang baik bagi kalian, kasih sayang mamah akan selalu menghangatkan dan menerangi kalian seperti matahari. Mudah-mudahan selamat di dunia dan di akhirat dan selalu dalam lindungan Allah…. Nyanyikan lah lagu dibawah ini setiap saat.”

Ya Allah Maha Kuasa

Lindungilah ayah bunda

Agar mereka selamat

Di dunia dan di akhirat

Ya Allah Maha Pengasih

Jadikan hatiku bersih

Agar hidupku selamat

Di dunia dan di akhirat

Ya Allah Maha Penyayang

Jadikan hatiku lapang

Agar hidupku selamat

Di dunia dan di akhirat

(ciptaan : R. Adur Raksanagara)

MY STORY.......PADA MULANYA.....!!!

Waktu itu hari mulai berangkat malam, saya mulai dapat meluruskan badan setelah seharian bekerja. Apalagi saat itu sedang sibuk mempersiapkan PIN putaran I tahun 2002 pada bulan September.

Saya tiduran sambil menonton televisi . Saya merasa ada yang engga beres dengan ketiak saya, seperti gatal atau perih. Mungkin karena secara rutin saya suka menghilangkan bulu ketiak. Saat saya meraba ketiak, terasa ada benjolan sebesar biji kacang, lebih dari satu. Saya tersentak, kemudian saya mencoba menyusur ke payudara kiri. Di bagian luar atas teraba benjolan lunak, bergerak , berukuran sekitar 2 cm.

“Wah...apa ini?, mungkin lipoma atau fibroadenoma ya...” begitu dalam pikiran saya. Kemudian saya berbicara kepada suami bahwa ada benjolan di payudara. Suami saya terkejut dan berkata : “ayo kita ke RS, jangan ditunda-tunda.....”

Saya segera menelepon sejawat radiologi menanyakan kemungkinan mamografi, kemudian menanyakan kawan baik saya yang aktif di yayasan kanker indonesia.

“ Mungkin fibroadenoma, tapi tetep harus diperiksa......”

Saya putuskan akan memeriksakan setelah PIN putaran I selesai.

Seminggu kemudian suami saya mengingatkan untuk melakukan pemeriksaan.

Esok harinya, saya ingat hari Kamis. Saya dan suami berangkat ke RSHS untuk melakukan pemeriksaan mamografi. Dokter radiologi mengatakan benar ada masa di payudara kiri, sebaiknya dilakukan USG pada mamae. Saya langsung mengikuti sarannya. Hasil USG menunjukkan gambaran ke arah keganasan.

Saya mulai khawatir, “Sebaiknya konsul ke dokter bedah sekarang juga...!”

Saya dan suami segera menuju bagian Bedah, disana saya menanyakan siapa saja dokter bedah onkologi. Saat itu tidak ada seorang pun dokter bedah onkologi di sekretariat. Semua sedang melaksanakan tugas di ruang bedah dan di tempat lain. Tiba-tiba ada teman semasa kuliah melewati saya, dia kebetulan teman SMP suami. “Sedang mencari siapa?” Saya mengatakan ingin konsul kepada dokter ahli bedah onkologi.

“Mari saya antar ke kepala bagian nya....” begitu katanya, dan saya diantar ke ruang bedah menemui dokter yang dimaksud. Sebut saja Dr. D.

Dia sedang bersiap untuk melaksanakan operasi, sambil menunggu operasi beliau mau meluangkan waktu memeriksa payudara saya dan membaca hasil mamografi dan USG.

“Betul ada tumor di payudara kiri, tapi kita belum tahu pasti apakah jinak atau ganas....”

Kita lakukan operasi saja sambil diperiksakan patologi anatominya.

Saya langsung menyetujui usul dokter D. Menurut sya lebih cepat lebih baik...

Hari selasa saya menjalani operasi. Tanpa diduga saat siuman, hasil PA meragukan, sehingga harus menunggu selama lebih kurang 5 hari.

Masa penantian yang sangat panjang dan dipenuhi kekhawatiran karena dalam keluarga saya ada beberapa keluarga dari pihak ibu yang mengidap kanker.

Saat kontrol jahitan sekaligus mengetahui hasil PA tiba. Luka jahitan bagus, tapi hasil belum keluar.

Saya menelepon Dr ahli PA menanyakan hasilnya, dia mengatakan :”Hasilnya kanker....!”

Saya segera masuk ke tempat praktek dr. D dan memberi kabar tersebut.

Dr. D menjelaskan prosedur dan tindakan yang akan diambil, Saat itu langsung dijadwalkan untuk opersi kembali mengambil jaringan di sekitar tumor atau BCT dilanjutkan dengan radiasi.

Saya katakan :”saya sih bagaimana dokter , anda jendralnya...saya menurut saja....”

Pulang kerumah, sepanjang perjalanan air mata ini terus mengalir, teringat penyakit yang saya derita ini bukan main-main. Ini sangat serius......!!!

Saya teringat kedua anak saya, anggit dan anggia. Bagaimana kalau saya tidak dapat mendampingi mereka .....Saya terus menangis. Suami saya hanya bisa memeluk dan berkata: “ mari kita berupaya untuk berobat...saya akan menemani kamu.....”

Tibalah hari operasi, saya diantar dan ditunggu oleh suami dan kakak-kakak saya.

Saat siuman saya merasakan nyeri yang hebat di payudara kiri dan ketiak kiri, rasanya tidak dapat bergerak..........., berbagai selang terpasang di tubuh saya.

Operasi berjalan lancar, demikian juga pemulihan luka operasi. Setelah satu minggu di RS saya boleh pulang.....Bahagianya dapat berkumpul dengan keluarga...

Besoknya saya harus ke bagian radiologi untuk mempersiapkan tindakan radiasi.

Dr. S ahli radiologi onkologi sangat membantu.

Saya menjalani serangkaian tindakan simulasi penembakan sinar.

Saya masuk ke ruangan, kemudian dokter melihat dari monitor. Dada saya ditempeli tanda-tanda denga plester dan diberi gambar dengan spidol hitam.

Wah...kesannya seperti korban di Bosnia.....Seram sekali.....:-(

Hari Senin nya saya mulai menjalani radiasi.

Masuklah saya ke babak radiasi, jadwal radiasi setiap hari.

Setiap jumat kontrol ke poliklinik. Jumlah radiasi 25 kali.

Setiap pagi saya pergi ke RS diantar suami sambil mengantar anak sekolah.

Saya masuk ke ruangan yang besar dan dingin sendiri.

Saya berbaring di meja yang pas seukuran badan, kemudian setelah semua siap saya ditinggalkan sendiri. Hanya ada lampu merah kecil menyala, pintu besi ditutup rapat.

Saat penyinaran saya membaca doa dan mencoba relaksasi.

Penyinaran dilakukan 3 kali pergantian posisi.

Waktu keluar ruangan saya belum merasakan apa-apa. Dalam hati :”wah kalau begini sih...enak, tidak ada yang terasa...”

Ternyata setelah penyinaran ke 10 baru terasa, badan lemes, mudah lelah dan nafsu makan berkurang.

Baru saja kami akan mengehela nafas panjang, kami dapat kabar bahwa sebagian kelenjar aksila saya telah terinfiltrasi sel kanker. Artinya saya harus menjalani kemoterapi.....

Saya tidak dapat mundur lagi, “I have to survive....!!!”

Saya harus bertahan dan saya akan bertahan.....

Sungguh suatu perjuangan menggapai kehidupan...

Chemo ke satu saya lalui, kepala rasanya pening seperti naik kora-kora yang tiada henti, kemudain naik gajah beledug kemudian naik kincir dan naik kendaraan di jalan yang berkelok-kelok....

Alhamdulillah tidak sampai muntah-muntah...... hanya mual hebat.

Dirumah, badan rasanya lemas......Saya menjalani kemoterapi hari Sabtu, minggu istirahat.

Senin sudah mulai dengan radiasi......

Pada hari ke 5 mulai sakit menelan, saya pikir itu hal biasa.....

Ternyata bertambah hebat, sampai menelan air liur pun sakit sekali ,seperti menelan silet......

Hari ke7 tetap seperti itu bahkan bertambah berat, sudah 2 hari saya tidak masuk makanan, minuman hanya 1 gelas 1 hari....Akhirnya badan bertambah lemas.......Saat itu bulan puasa, akhirnya setelah berkonsultasi dengan dokter saya masuk RS.

Hari ke 2 di RS saya sudah mulai dapat bercanda, ribut bicara...dan bertanya macam-macam....Dokter D hanya berkata :”Ini baru ayi..., yang kemarin bukan ayi.....” Leukosit saya turun sampai 1020. diputuskan tidak boleh ada yang menengok dan saya diberi suntikan untuk meningkatkan leukosit.

Setelah kondisi umum baik, saya dibolehkan pulang.

Hari itu kalau tidak salah hari jumat.

Saya punya waktu 2 hari untuk persiapan kembali radiasi.

Sungguh sangat berat........................

Tapi saya selalu bernyanyi :”Aku....tegar.....” bukan “hidupku yang sengsara......”

Sunday, October 08, 2006

BIMBANG.....

Harri gini sebagai karyawan pemerintah serba salah .
image koruptor, pemalas, gak ada kinerja, tukang potong, tukang malak, kumal,bodoh, arogan,dll sudah melekat.

Tapi apakah pernah orang menyadari bahwa kalau gak ada pegawai negara gak ada yang ngurus.
Bekerja dialam yang selalu dicurigai, sementara tuntutan terhadap pelayanan ters meningkat.
Tapi juga banyak yang ingin menelakakan dengan dalih "pengawasan" atau atas keluhan masyarakat.

Apa yang harus dilakukan, jalan terus memberikan pelayanan atau "cuappe dech...lalu keluar...!!!
Kadang rasanya ingin teriak sekuat-kuatnya :"Dasar otak lumpur...." makanya kotor, coba deh tukar posisi.....kamu yang di tempat ku dan aku memantau mu.....eddan, gilllla, guoblok....atau bahasa kotor lain.
Tapi yang ada bukan bahasa itu yang keluar melainkan :
"Ya...Allah hanya Engkau pelindung ku"
biarpun seribu orang berniat mencelakakan ku, bila menurut mu "Tidak" maka saya Insya Allah selamat....

Begitulah hidup selalu ada kebimbangan, maka betapa ......kita merasa harus semakin dekat kepada Allah....

Semoga situasi seperti "badai, angin ribut dan pusaran" yang menyedot energi ini akan cepat berakhir.....sehingga kita dapat bekerja dengan lebih kreatif dan semangat....

Negara maju...???

Kebetulan saya baru pulang dari salah satu yang katanya "negara maju"
Saya diundang untuk prentasi dari karya tulis ilmiah.
Kalau soal negara lebih bersih dan tertata ,sekilas saya gak begitu tertarik.
Segala sesuatu jangan hanya dilihat sekilas....itu yang saya dapatkan.

Ternyata banyak juga orang yang "tidak bahagia", banyak juga orang yang gak ngerti mau kemana hidupnya, banyak juga orang yang gak sopan.....
Jadi jangan selalu bilang "negara kita adalah negara miskin",negara kita negara yang banyak krisis, negara kita negara yang berantakan, negara kita negara yang terpuruk....kenapa itu saja yang selalu didengungkan di media...Saya sih agak ...gimana gitu....???
Kok bisa-bisanya menghipnotis diri untuk menjadi pesimis.....
Dan hipnotis serta kegelisahan itu disebarkan ke orang lain ....
Apa gak ikut dosa ya....??

Kenapa sih kita tidak sering mengexpose kelebihan dan prestasi di negara kita.
Masa sih gak ada prestasinya??
Lakukan yang terkecil, kehadiran perwakilan Indonesia sehingga benderanya berkibar di konferensi internasional apakah bukan prestasi ?
Bersanding dengan negara lain....

Mari kita melihat dari sisi lain,optimis dong...dalam setiap masalah atau kegentingan selalu ada peluang...
Jangan sebaliknya dalam setiap peluang yang dilihat masalahnya....kalau yang gini sih...."cuapppe dech....!

pilihan

Dalam hidup selalu kita harus memilih. Bahkan "tidak memilih" pun itu pilihan. Setiap pilihan ada risiko yang harus ditanggung. Itulah tanggung jawab.
Bekerja di sistem yang carut marut adalah pilihan, kita tidak bisa menyalahkan orang lain.
Yang penting dalam memilih kita yakin pilihan itu benar, kemudian dilaksanakan dengan sepenuh hati dan hati-hati. Kerjakan segala sesuatu dengan ikhlas, jujurlah ,lakukan dengan sabar alias tekun untuk mencapai sesuatu. Setelah itu selalu disertai dengan doa mohon perlindungan dan bantuan Allah. Bila semua telah kita lakukan....apa lagi kalau bukan pasrah.
Kepasrahan terhadap segala sesuatu ikhtiar yang telah kita lakukan adalah puncak ketenangan bathin....atau orang bilang mungkin bahagia.

Jadi...jangan biarkan kebahagiaan kita diambil oleh orang lain. Kita layak mendapatkannya.
Bila orang lain membuat kita sedih, bernyanyilah...
Bila orang lain membuat kita marah, maka kita bisa bilan "kasihan deh..loe..."
So..hidup itu sangat indah.
Susah dan senang kita yang buat.....

jadi password nya :Syukur dan sabar