Simple Life

Kita ada didunia ,menjalani kehidupan tentu ada tujuan. Dalam perjalanan menuju tujuan banyak yang terjadi; susah, senang, sedih, takut, waswas, kecewa, marah.... Pandanglah dari sudut yang lain....Syukur dan Sabar...so simple...

Thursday, October 12, 2006

ASHA KECIL

Pada saat saya pertama kali di diagnosa menderita kanker payudara, waktu itu sekitar bulan september 2002. Saya dan suami langsung mempersiapkan rencana pengobatan yang akan dimulai dengan operasi.

Pada waktu yang bersamaan keponakan saya, Rani dan Koko bersama putri kecilnya Asha tinggal di rumah kami sementara sambil menunggu rencana kepindahannya ke Bogor.

Saya dan suami tentu sangat senang , karena ada yang menemani putra-putri kami Anggit dan Anggia yang saat itu kelas 3 SMP dan 6 SD. Walaupun ada mbak Sari yang setia mengurus segala keperluan di rumah

Kehadiran keponakan kami dan putrinya membuat saya tenang saat menjalani pengobatan di RS.

Sejak pertama kali di diagnosa , saya harus bolak-balik ke RS. RS menjadi tidak asing lagi bagi saya. Operasi pertama memang hanya memakan waktu 2 hari. Operasi ke dua sekitar 8 hari. Dilanjutkan dengan radiasi. Berarti selama 6 minggu saya harus ke RS tiap hari untuk radiasi. Setelah itu masuk jadwal kemoterapi, 3 minggu sekali saya harus dirawat 1 malam untuk pemberian kemoterapi sebanyak 6 siklus. Belum lagi saat kemo pertama, saya harus dirawat 6 hari untuk memperbaiki keadaan umum saya akibat efek samping kemoterapi. Di sela-sela jadwal tersebut, ada kontrol ke bagian radiologi, ke bagian laboratorium dan entah berapa kali ke Dr. Bedah yang menangani saya.

Sepulang dari RS setelah menjalani kemoterapi, biasanya saya langsung berbaring di kamar. Tidak banyak yang bisa saya lakukan. Kepala rasanya berputar seperti kita selesai bermain ”gajah beledug” kemudian naik kora-kora dan naik komidi putar. Kepala pun terasa membesar sebesar kepala gajah, rasa mual terkadang muntah biasanya menyertai di minggu pertama setelah pemberian kemoterapi. Mual seperti isi perut sudah berada di pangkal kerongkongan dan siap keluar kapan saja. Karena itu saya selalu membawa kantong pelastik, dan di kamar sebelah tempat tidur selalu tersedia ember kecil. Keluhan itu ditambah dengan rasa linu yang menyerang seluruh tulang tubuh seperti seorang anak yang sedang ”sakaw”. Sulit menelan bahkan sampai tidak bisa menelan air liur sendiri pernah saya alami.

Saat saya berbaring sendiri di kamar tidur, biasanya pintu tidak ditutup rapat agar suami atau anak-anak dapat melihat dan menolong bila saya memerlukan sesuatu. Disebelah tempat tidur ada meja kecil yang penuh tempat obat, kertas tisu, minuman, kue kecil, sapu tangan handuk dan perlengkapan lainnya agar mudah dijangkau.

Pagi hari bila kedua anak saya sedang sekolah, saya biasa berbaring di tempat tidur sambil memejamkan mata. Saya senang membaca tetapi tidak bisa pada kondisi seperti itu karena membuka mata pun pusing. Menonton acara televisi pun demikian. Pada saat-saat seperti itu biasanya Asha kecil dengan diam-diam masuk ke kamar saya. Dia paling senang mendekati meja obat saya. Tentu saja meja itu menarik hatinya karena bermacam-macam barang ada disana. Terkadang dia bergumam, seolah bertanya ”apakah boleh bermain dengan semua yang ada di meja tersebut ?” Biasanya saya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.

Dengan senyumnya yang tulus, mulut penuh makanan , matanya yang bening dia menatap mata saya sambil menarik-narik kerudung kecil yang saya kenakan. Sejak pemberian kemoterapi pertama saya selalu menggunakan kerudung kecil di rumah karena kepala saya gundul, tanpa sehelai pun rambut. Saya tidak ingin orang lain terutama anak-anak saya melihat perubahan pada diri saya. Jadi kalau keluar kamar saya selalu menggunakan kerudung kecil. Asha kecil selalu tertarik dengan kerudung tersebut karena berwarna-warni. Dia selalu ingin mencoba di kepalanya. Biasanya saya kenakan di kepalanya. Dia langsung tersenyum manis dan menunjuk cermin ingin berkaca. Setelah berkaca biasanya dia langsung lari ke luar kamar untuk menunjukkan kepada siapa saja yang ada di luar kamar bahwa dia berkerudung.

Bila kerudung saya dibuka, tentu saja kepala gundul saya terlihat. Asha kecil biasanya menatap saya dengan pandangan biasa saja : tidak menunjukkan persaan takut, mencibir, atau menghindar. Dia terkadang memegang kepala saya yang gundul seolah ingin membuktikan bahwa benar tidak ada rambut di kepala saya. Dia tersenyum geli. Kepala gundul ternyata tidak menakutkan, kepala gundul ternyata tidak perlu ditakuti, kepala gundul ternyata tidak perlu dipikirkan. Tatapan matanya seeperti tatapan mata suami saya bila melihat saya dalam keadaan tanpa keurudung, tetap hangat, bersahabat, dan penuh kasih sayang. Demikian juga tatapan mata Anggit dan Anggia kepada saya tidak ada yang berubah .

Saya sering tersenyum melihat tingkah laku Asha kecil , ah....seandainya semua orang di muka bumi ini mempunyai mata yang bening dan hati yang bersih seperti Asha kecil. Yang selalu menatap orang lain dengan pandangan bersahabat, tidak ada pikiran negatif.

Kejadian itu hampir terjadi setiap hari, bila orang tuanya memanggil ”Asha sini...” Dia dengan cepat meloncat ke tempat tidur saya, berbaring di sebelah dan masuk ke dalam selimut. Saya biasanya menatap matanya dan menempelkan telunjuk saya ke mulut . Dia seolah – olah mengerti bahwa kita tidak boleh bersuara, dia semakin dalam masuk ke bawah selimut. Biasanya Asha kecil segera dipanggil keluar dari kamar, karena takut mengganggu saya yang sedang beristirahat.

Terkadang dia bermain-main dengan memindah-mindahkan tempat obat, membuka tempat tisu atau mengeluarkan talk ke tangannya yang mungil. Dia selalu menatap mata saya sambil tersenyum dan bergumam. Terkadang membawa buku cerita dan pura-pura membaca di sebelah saya. Biasanya kedua orang tuanya memangil “Asha kesini nak….! Jangan mengganggu nini ayi….…..”

Dia tersenyum menatap saya sambil menempelkan telunjuknya ke mulutnya yang mungil. Tidak lama kemudian biasanya Asha kecil digendong mamahnya ke luar kamar. Saya hanya tersenyum. Asha kecil tidak pernah mengganggu saya, Asha kecil hanya ingin menemani saja, Dia anak yang baik.

Asha kecil terkadang mengganggu kedua anak saya Mang Aa dan Bi Gia demikian dia biasa menyebut nama kedua anak saya. Anggit dan Anggia senang sekali diganggu oleh Asha, mereka jadi melupakan sejenak ibunya yang sedang sakit, sehingga kegembiraan selalu ada di dalam rumah kami. Terkadang dia juga mengganggu suami saya ”aki ronald” demikian dia menyebutnya. Asha kecil tiba-tiba ingin digendong atau duduk di kaki suami saya ingin diterbangkan ke atas. Terkadang dia duduk di sebelah saya dan meminta makanan yang sedang saya makan atau minuman yang sedang saya minum.

Kejadian itu telah lama berlalu. Saya sering berpikir apakah ini kebetulan atau rencana Allah. Semua kejadian seperti telah direncanakan dengan baik. Ya… Allah yang Maha Pengatur dan Perencana, terima kasih atas segala Rahmat dan Karunia yang diberikan kepada kami se keluarga. Tidak ada yang perlu ditakuti, semua telah direncanakan dengan sempurna oleh Allah.

Untuk Asha kecil, terima kasih telah menemani kami sekeluarga. Tetaplah menjadi Asha kecil yang manis, yang bermata bening, yang berhati bersih dan membawa kebahagiaan kepada sekelilingnya.

Doa dari nini Ayi, aki Ronald, mang Aa da Bi Gia untuk mu............

1 Comments:

  • At 1:59 PM, Blogger Rani Adrianti said…

    Terima kasih doanya untuk keluarga Musar... Asha juga senang sekali bisa merasakan tinggal di rumah Nini Ayi...

     

Post a Comment

<< Home